Tuesday, July 21, 2020

Pembantaian di Srebrenica: Melawan Lupa Luka yang Pernah Ada

Tragedi Mengenaskan yang Seharusnya Tak Dilupakan



Di tahun 1993, kala itu saya masih terhitung remaja & tidaklah memahami apa yang tengah berkecamuk di negara yang berada di Semenanjung Balkan.  Itupun andaikan senior saya tidak memberi tugas harus mengumpul puisi tentang duka di Bosnia mungkin sampai sekarang saya tidak tahu apa-apa tentang tragedi Srebrenica.  Seharusnya para pemuda Islam milenial jangan seperti saya sewaktu muda dulu ya.  Harus peka dengan apa yang tengah menimpa umat.

❤❤❤

Bosnia - Herzegovina adalah sebuah negara di Semenanjung Balkan dan Srebrenica adalah salah satu kota yang berada di negara tersebut. Republika.co id (11/7/2020) menyebutkan bahwa penduduk Bosnia mayoritas Bosniaks (muslim keturunan Slavia Bosnia yang mengadopsi Islam di bawah pemerintahan Turki Ottoman di abad pertengahan), sisanya adalah Serbia Ortodoks  &  Kroasia Katolik.


Perpecahan pun sebenarnya terjadi antara Serbia & umat Islam Bosnia sejak tahun 1992-1995.  Berawal dari Bosnia – Herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya setelah referendum di tahun 1992 & diakui oleh pemerintah Amerika Serikat & Eropa.  Serbia tidak menerima hal ini. Mereka pun memboikot referendum.  Tercatat pada jejak-jejak fakta, Serbia mengusir warga muslim keluar dari wilayah yang akan menjadi daerah negara Serbia. Dilanjutkan dengan melakukan genosida di Srebenica pada tahun 1995.  Selama peperangan terjadi, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebenarnya hadir ditambah dengan tentara Belanada yang menjadi tentara internasional penjaga perdamaian dan bermarkas di Srebenica.

Pada 11 Juli 1995 terjadilah tragedi memilukan itu.  Srebrenica yang posisinya adalah sebagai enklave (zona aman) bagi warga muslim diluluhlantakan oleh Serbia yang dipimpin oleh Jenderal Ratko Mladic. Saat itu PBB & pasukan Belanda malah tidak mampu melawan.  Serbia pun memisahkan antara pria & wanita muslim yang saat itu hendak menyelamatkan diri dengan bus. Tangan keji mereka menghabisi 8000 pria (termasuk remaja) dan menguburnya secara massal. Para wanita muslim pun diperkosa.  Sungguh mengenaskan.


Kuburan Massal Korban Tragedi Srebrenica
Kuburan Massal Korban Tragedi Srebrenica

Kini, 25 tahun sudah luka dari tragedi Srebenica belumlah kering.  Pasalnya, dikutip dari republika.co.id (11/7/2020)   Pusat Hukum Kemanusiaan di Beograd mengatakan, “Ini adalah fakta yang memalukan dan menghancurkan bahwa tidak ada pejabat Republik Serbia yang menyebut Srebenica sebagai genosida di tahun 1995.” 

Ratko Mladic
Ratko Mladic (2017)

Akan tetapi sebenarnya pengadilan kejahatan perang di Hague, Belanda memutuskan peristiwa tersebut termasuk genosida.  Di tahun 2017 lalu komandan Mladic pun dijatuhi hukuman seumur hidup oleh PBB di Denhaag atas genosida & kekejaman lainnya. Mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pun menyatakan: “Tragedi Srebrenica akan selamanya menghantui sejarah PBB” (republika.co.id, 11/7/2020).

💫💫💫

Runtuhnya kekhilafahan Utsmani (Ottoman) di tahun 1924 menjadikan kaum muslimin tak memiliki lagi institusi pelindung.  Tak ada lagi Khalifah yang menjadi pelindung umat Islam dari serangan kaum kuffar.  Tak hanya umat Islam di Bosnia, namun di berbagai negeri muslim seperti Suriah, Palestina, Rohingya, Afganistan, Kashmir, Somalia, Uyghur, Filipina, Yaman dan seterusnya tak lagi memiliki junnah (perisai).  Berbagai diplomasi & kinerja lembaga internasional tidak menuai hasil yang nyata.


Bila berkaca pada pembantaian yang terjadi di Srebrenica serta di berbagai belahan negeri muslim lainnya, kita bisa melihat  aktivitas perang yang dilakukan agresor sangat tidak beradab & berperikemanusiaan.  Sangat jauh bila dibandingkan dengan bagaimana pasukan jihad di masa Rasul hingga kekhilafahan dalam berbagai futuhat (penaklukan & pembebasa wilayah) yang dijalankan tentunya menaati kaifiyah (tata cara) jihad.

Arahan aktivitas jihad dari Rasulullah yang demikian populer termaktub dalam hadist berikut: Hanzhalah Al-Katib berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah S.A.W., lalu kami melewati seorang wanita yang terbunuh yang tengah dikerumuni oleh manusia. Mengetahui hal itu, Rasulullah S.A.W. bersabda: “Wanita ini tidak turut berperang di antara orang-orang yang berperang.” Kemudian dia berkata kepada seseorang, “Pergilah engkau menemui Khalid ibnul Walid, katakan kepadanya bahwa Rasulullah S.A.W. memerintahkanmu agar jangan sekali-kali engkau membunuh anak-anak dan pekerja/orang upahan.” (HR. Ibnu Majah no. 2842, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 701).

Umar bin Abdul Aziz selaku khalifah pun menuliskan amanah Rasul tersebut kepada salah satu gubernurnya.  Selain itu peraturan jihad lainnya salah satunya adalah dilarang menghancurkan desa atau kota.  Hal ini menandakan betapa jihad dalam Islam melindungi jiwa warga & daerah sipil pada daerah yang ditaklukkan .

Shalahuddin Al-Ayubi, sang Singa Padang Pasir yang begitu lihai dalam berperang pun ternyata justru lebih suka menghindari perang. Sebagaimana dikisahkan dalam republika.co.id (07/06/2018), Shalahuddin tidak membalas kejahatan pasukan Salib yang membunuh setiap Muslim di Yerusalem saat berhasil merebut kota suci itu lebih dari seabad sebelumnya.

|Baca Juga: Shalahuddin Al Ayubi

Islam demikian menghormati manusia, menghargai nyawa & segenap hukum-hukumnya pun memanusiakan manusia.  Namun sayangnya, realita sekarang justru malah mendistorsi makna jihad fii sabilillah. Di satu sisi negeri-negeri muslim termasuk Bosnia tanpa adanya Khilafah sama saja tidak memiliki pelindung yang hakiki bagi umat. Sangat disayangkan bila mempercayakan kepada lembaga internasional untuk menjamin keamananan umat Islam, karena justru sejatinya keamanan tersebut tidak terwujud secara hakiki.

Wallahu’alam bishawab.


Share:

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk kunjungan & komentarnya ya. Jangan bosen mampir ke blog ini. Oya, jangan tuliskan link hidup pada komentar Anda.