Lepaskan Indonesia dari Jeratan Belt Road Initiative

(*forbes.com

Pada September & Oktober 2013, Presiden Cina Xi Jinping menyuarakan China Dream yakni membangun jalur ekonomi di daratan yaitu Silk Road Economic Belt – Sabuk Ekonomi Jalur Sutra dan Maritim Silk Road – Jalur Sutra Maritim abad 21.  Mimpi ini dikemas dalam sebuah proyek yang saat itu diberi nama One Belt One Road (OBOR).  Tujuan proyek ini membangun sistem perdagangan internasional yang terkoneksi. Baik melalui jalan darat dari Tiongkok ke Eropa dan sebaliknya. Maupun jalur laut dari Tiongkok ke kawasan Asia dan Afrika. Dalam artian, membangun jalur- jalur koneksi yang menunjang perekonomian Cina agar lebih berpengaruh di mata dunia.

Di tahun 2016, OBOR pun diubah menjadi Belt Road Initiave (BRI) untuk memperhalus bahwa proyek ini bukanlah ditetapkan oleh ideologi ataupun agenda politik. Namun, sebagai proyek yang dilaksanakan oleh banyak jaringan (antar badan usaha dari negara-negara & swasta yang bekerjasama). Sedangkan OBOR terkesan dikuasai oleh satu jaringan.

Proyek BRI  bergerak pada pembangunan berbagai infrastruktur baik darat, laut dan udara di negara-negara yang menyepakati untuk bekerjasama  dalam lingkup B to B (business to business). Dana BRI diperkirakan diperlukan sekitar 4 hingga 8 triliun dolar AS berasal dari beragam saluran pendanaan seperti obligasi BRI, investasi modal swasta dan kemitraan publik-swasta (PPP) tetapi juga investasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan sangat penting untuk keberhasilan BRI. Pendanaan BRI akan diamankan oleh berbagai mekanisme kelembagaan seperti Asian Development Bank (ADB), Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) & New Development Bank (NDB). Ketiga bank tersebut pun mengucurkan dana senilai 40 milyar USD.

Cina pun telah mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRI sebanyak 2 kali di Beijing yaitu KTT 1 pada 14-15 Mei 2017 dan KTT 2 pada 26-27 April 2019. KTT 1 diikuti sebanyak 130 negara, 70 organisasi, dan lebih dari 1.500 peserta dan 29 kepala negara termasuk Presiden R.I Jokowi datang untuk menghadiri forum yang sangat megah yang belum pernah terjadi sebelumnya. KTT 2 dihadiri 150 negara dan 37 kepala negara.  KTT tersebut diharapkan membuahkan kerja sama investasi antara Cina dengan berbagai negara.  

Namun investasi pastinya tentu tak luput dari resiko kerugian.  Hal ini dialami 8 negara yang dalam pembangunan infrastruktur yaitu Pakistan, Maladewa, Montenegro, Laos, Mongolia, Djibouti, Kyrgyzstan, dan Tajikistan saat masih dalam kerja sama OBOR. Pakistan mengalami kerugian sebesar USD 62 miliar atau Rp 903 triliun. Terkait Sri Lanka, karena tak  mampu membayar pinjaman yang didapat di tahun 2015, akhirnya menyerahkan pelabuhan Pelabuhan Hambantota serta hak pengelolaan ke pemerintah Tiongkok selama 99 tahun untuk mengganti utang USD 1,1 miliar atau Rp 16 triliun.

Tidak salah analisis bila para ahli politik ekonomi mengatakan baik OBOR maupun BRI adalah debt trap, bahkan debt colonialism yang justru  mengokohkan hegemoni Cina dalam perekonomian global (baca: sistem ekonomi kapitalis-sekuler).

(*republika.co.id

Bagaimana dengan Indonesia?

Lima tahun proyek OBOR hingga berganti menjadi BRI berjalan dan sebenarnya pun Indonesia telah terlibat kerjasama dalam OBOR di tahun 2015 diantaranya yakni pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, proyek PLTA Sungai Kayan, dan pembangunan kawasan industri Tanah Kuning.  

BRI menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani bermanfaat bagi Indonesia, karena sejalan dengan upaya percepatan pembangunan infrastruktur. BRI  memiliki 13 proyek di Indonesia, kawasan industri, jalan tol, pelabuhan, dan beberapa termasuk dalam PSN sehingga itu melengkapi pembangunan di Indonesia. 

Usai KTT 2 BRI,  ada 9 proyek dan 6 studi bersama di Indonesia yang dilirik Cina. Deputi III Bidang Infrastruktur Kemenko Maritim Ridwan Djamaluddin mengatakan proyek tersebut senilai US$20 miliar atau setara dengan Rp280 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat).

Sembilan proyek tersebut berada di Sumatera Utara (3 proyek- Pelabuhan hub dan kawasan industri internasional Kuala Tanjung, Kawasan industri Sei Mangkei, dan Kawasan Industri Kualanamu), Kalimantan Utara (3 proyek- Kayan Hydro Energy, Kabupaten Bulungan, Pelabuhan Tanah Kuning, dan Kawasan Industri Tanah Kuning), Sulawesi Utara (1 proyek- Kawasan Industri Bitung), dan Bali (2 proyek- Taman Teknologi Pulau Kura-Kura dan Pelatihan bersama Sumber Daya Manusia).  Pihak dari China dan badan usaha di Indonesia sudah meneken nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pada 25 April 2019.

Menteri  Koordinasi  Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa tolok ukur keberhasilan dari proyek-proyek BRI ini adalah mengurangi tingkat kemiskinan dengan  membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal.

Indonesia nampak masih berbaik sangka dari kerja sama dengan negara Tirai Bambu ini terkait pembangunan infrastruktur negara. Tidak bersikap sebagaimana Malaysia yang membatalkan kerja sama terkait BRI ini. Tidak khawatir semakin tercekik utang luar negeri sebagaimana yang dialami oleh Srilanka & Pakistan bahkan Zimbabwe yang sampai mengganti mata uangnya dengan Yuan agar mampu melunasi utangnya kepada Cina.

(*asiagreen.com

Indonesia sudah semestinya membatalkan kerjasama BRI.  Permasalahan pembatalan ini pun difokuskan untuk melindungi stabilitas perekonomian & politik negara.  Selain itu sebagai negeri muslim sudah semestinya mempertimbangkan secara jeli kerjasama dengan negara asing. Sayangnya, posisi Indonesia dalam tatanan konstelasi politik internasional hingga kini hanya sebagai negara pengekor (daulah at tabi’ah) dari negara pertama (daulah al ula) yakni Amerika Serikat (AS). Sedangkan Cina berposisi sebagai negara independen (daulah al mustaqilah) pun memiliki posisi tawar yang kuat dalam perekonomian hingga mampu membuat negara-negara pengekor terpengaruh dalam ikatan politik ekonomi bilateral.  Sedangkan AS masih memiliki posisi kuat terkait War on Terrorism di dunia.  Di sinilah letak penting adanya Khilafah, sebab tentunya akan melindungi negeri-negeri Islam agar tidak terjebak dalam kerjasama yang penuh tipudaya dari negara asing.

Indonesia juga negeri-negeri Islam lainnya seharusnya waspada terkait investasi asing yang justru hanya memperkuat hegemoni perekonomian asing & sistem kapitalisme sekular, jeratan riba dan berbagai wujud penjajahan neo imperialisme lainnya yang geraknya demikian halus.

Inilah pentingnya memiliki kesadaran politik dalam tubuh umat Islam agar mampu membaca kondisi negeri-negeri Islam yang sebenarnya tengah dijajah oleh neo imperialisme. Selain itu juga mesti paham bahwa solusi dari penjajahan ini adalah dengan mengganti sistem kapitalisme sekular dengan Islam.  Tidak hanya sebatas membatalkan kerjasama dengan asing yang ditengarai menjajah secara neo imperialisme namun juga menerapkan Islam secara totalitas di bawah naungan Khilafah Islam. Memiliki keberanian untuk mandiri bagi negeri-negeri Islam juga sampainya kesadaran akan wajibnya menerapkan Islam secara kaffah tentunya harus diupayakan.

Sumber:
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Inisiatif_Satu_Sabuk_Satu_Jalan).
  • https://www.ecfr.eu/article/commentary_chinas_belt_and_road_new_name_same_doubts
  • https://www.cnbcindonesia.com/news/20190513181838-4-72178/apa-itu-obor-jalur-sutra-modern-china-yang-jadi-polemik-ri
  • https://www.beltroad-initiative.com/belt-and-road/
  • https://www.kompasiana.com/makenyok/59203aea1bafbd5f0a67069f/menerawang-apa-itu-belt-and-road?page=all
  • https://dunia.tempo.co/read/1200126/presiden-xi-klaim-150-negara-ikut-belt-and-road-initiative
  • https://www.msn.com/id-id/news/other/5-tahun-program-jalur-sutra-8-negara-masuk-jebakan-tiongkok/ar-BBM7hLZ
  • https://ekonomi.bisnis.com/read/20181102/9/856043/sri-mulyani-beberkan-manfaat-jalur-sutra-baru-china-untuk-indonesia
  • https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190520195613-92-396622/china-lirik-sembilan-proyek-infrastruktur-ri-dalam-ktt-obor
  • https://tirto.id/indonesia-siapkan-4-koridor-untuk-proyek-belt-and-road-initiative-dm8d
  • An Nabhani, Taqiyuddin. 2006. Mafahim Siyasiyah (terjemah). Jakarta. Cet.1
  • https://mediaumat.news/tolak-kolonialisasi-obor-china-tegakkan-khilafah/



Baca Juga:


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Let's Grow Happy!

Acer Day 2018 Attack Banjarmasin dengan Meluncurkan Swift 3 dan Berbagai Laptop Gaming Terbaru

Blooming Up & More Shining!