Kamis, 04 Oktober 2018

# Kesultanan Banjar # Lada

Napak Tilas Kejayaan Lada di Masa Kesultanan Banjar

(*Sumber : Pinterest; Edit: Snapseed


Sejarah Banjar mencatat bahwa Lada (Piper nigrum L) yang memiliki julukan The King of Spice dan populer dengan sebutan ‘Sahang’ atau ‘Merica’ ternyata pernah menjadi komoditas primadona dalam pertanian & perdagangan di abad ke-17 (id.wikipedia.org).

Berbagai penelitian bertema historis terkait lada ini pernah dilakukan.  Hal ini menarik untuk dicermati, karena seperti yang kita ketahui realitanya saat ini lada tidak lagi menjadi komoditas primadona di Banua. Zaman berganti, jenis tanaman yang menjadi andalan petani pun juga ikut berubah.  

Mengapa lada begitu diminati? Tentunya sebagai rempah penyedap rasa pada masakan dan makanan.  Rasa pedasnya membuat sensasi tersendiri pada lidah penyuka kuliner pedas, selain itu juga membuat perut menjadi hangat.  Lada pun tergolong sebagai tanaman obat.  Dalam situs tanobat.com dijelaskan bahwa pada biji lada mengandung minyak atsiri, pinena, kariofilena, limonena, filandrena,alkaloid piperina, piperitina, piperidina, zat pahit, dan minyak lemak.pun  Khasiatnya pun beragam, seperti membantu menurunkan berat badan, melegakan hidung tersumbat, radang sendi, dan lain-lain. 



Lada yang biasanya dikonsumsi adalah lada hitam & lada putih.  Ibnu Wicaksono Fahmi dalam penelitiannya mengenai perdagangan pada masa Kesultanan Banjar (2010) menjelaskan bahwa pada abad ke-17 para pedagang Cina kesulitan mendapatkan pasokan lada di wilayah Nusantara.  Hal ini terjadi karena adanya monopoli dari Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Sampailah mereka di Bandar Masih (Banjarmasin) dimana pasokan lada tak terjamah monopoli VOC saat itu.  Meningkatnya permintaan menyebabkan meningkatnya pula produksi lada. Akhirnya, tidak hanya Cina, tetapi Belanda, Inggris, Portugis & Denmark pun jumlahnya meningkat berdatangan ke Banjarmasin untuk membeli lada. 

(*Sumber: Pinterest


Hingga abad ke- 18 wilayah perkebunan lada di Kalimantan Selatan saat itu adalah Martapura (Riam Kiwa & Kanan), Tanah Laut, Amandit, Pemangkih, Kelua, Negara & Amuntai.  Keuntungan dari perdagangan lada ini begitu besar.  Hal ini terlihat dari gaya hidup sultan & para bangsawan Banjar yang ditulis  Groeneveldt pada buku Nusantara dalam Catatan Tionghoa. 

Surplus lada saat itu memang menggembirakan namun ternyata Banjarmasin justru harus mendatangkan beras dari daerah lain.  Anthony Reid dalam bukunya Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 jilid 2 : Jaringan Perdagangan Global (2011), ia mengutip Hikayat Banjar : “Biarkan tak seorang pun di negeri ini menanam lada, sebagaimana hal itu dilakukan di Jambi dan Palembang. Mungkin negeri-negeri itu menanamnya demi uang agar bisa merengkuh kekayaan.  Tak diragukan lagi bahwa mereka akan tiba pada saat keruntuhannya. Yang didapat hanya perseteruan dan bahan pangan akan menjadi mahal. Peraturan-peraturan  akan berada dalam kekacauan karena orang di kota raja tidak akan dihormati oleh penduduk pedesaan; pengawal-pengawal raja tidak akan ditakuti oleh orang pedesaan.. Jika lebih banyak (lada yang melebihi kebutuhan rumah tangga) ditanam, demi menggapai uang, bencanalah yang menyelimuti negeri.. Perintah dari kerajaan akan diabaikan karena orang-orang akan berani menentang raja.”


Sultan Suryanata pun sebenarnya telah melarang rakyatnya untuk menanam lada berlebihan.  M.Rafiek dalam penelitiannya “Tumbuhan dalam Hikayat Raja Banjar” (2015), mengutip pula dari Hikayat Banjar: “Jangankan ia takut, hormat pun kurang itu karena ia menghumakan sahang itu.  Suruhan raja pun itu tiada pati ditakutinya itu dan tiada akan tiada akhirnya itu perintah menjadi huru-hara dan banyak fitnah datang pada negeri itu.  Hanya bertanam sahang itu kira-kira sepuluh tunggulnya atau dua puluh tunggulnya akan dimakan saja itu, astamewah paraba orang banyak itu banyak jadinya itu banyak jadinya itu.  Hanya yang patut ditanam dijadikan sungguh-sungguh itu: padi, jagung, ubi, gumbili, keladi, pisang.  Barang makanan yang lain daripada sahang itu harus dijadikan, supaya makmur negeri serba murah, perintah itu menjadi karena murah makanan, tiada sukar barang dicari itu.”   

Euforia lada membuat Kesultanan Banjar mendatangkan beras tidak saja dari Jawa (Jepara, Tuban, Pajang & Mataram) tapi juga dari Makassar sebagaimana tesis Sulandjari mengenai Politik & Perdagangan Lada di Kesultanan Banjarmasin.

(*Sumber: Pinterest

Masa kejayaan lada di Banua telah berlalu.  Imam Hanafi pun menuliskan pada artikelnya yang berjudul “Lada Kotabaru yang Tak Lagi Pedas” (kalsel.antaranews.com/19/1/2011) bahwa lada hingga tahun 80’an pernah menjadi primadona di Kotabaru. “Luas perkebunan lada terus menyusut, seiring masuknya industri perkebunan kelapa sawit, dan perusahaan tambang batubara di daerah itu. Ganti rugi lahan tidak dapat dihindari lagi, hamparan tanaman lada berangsur berubah menjadi lahan tambang barubara, kebun karet dan perkebunan kelapa sawit serta tanaman lainnya,”demikian tulis Imam dalam artikelnya.

Bercermin pada sejarah maka sudah semestinya pemerintah memberlakukan kebijakan pengembangan pertanian di Banua yang mampu memenuhi kebutuhan hidup rakyat.  Sebaiknya jangan terpaku pada euforia bercocok tanam dari tanaman yang dianggap mampu mendulang keuntungan berlimpah namun justru lahan yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan pokok rakyat secara merata.[]

(*Mia Yunita;
Blogger. Tinggal di Banjarmasin.
Telah diterbitkan pada Opini SKH Kalimantan Post, 22 September 2018

8 komentar:

  1. Woaah, baru tau Kotabaru dulu ada perkebunan Lada, huhuhu. Nice info mba

    BalasHapus
  2. Waaah, ternyata Kal-Sel dulu pemasok lada ya. Baru tau sejarah ini.

    Memang segala yg berlebihan itu kurang baik, dan sejarah ini membuktikannya. Makasih infonya, Ka :)

    BalasHapus
  3. Wah banyak bgt ya cerita dibalik lada ini hhe

    BalasHapus
  4. Ternyataa lada ada juga yaa sejarahnya.. Baru tau hehe aku sendiri kalo masak slalu pake lada ga bs ga.. Soalny ud jd pnyedap dan klo g pke lada kaya ad rsa yg kurang wkwk

    BalasHapus
  5. Wah mantap mbaklah bahari rempah-rempah yang ada di kalimantan ini jadi primadona. Kada kebayang kalau sampai wahini, bisa rancak tetamu buhan bule aur ke kalimantan wkwkkw.

    BalasHapus
  6. wah hanyar tahu ulun kalsel pernah jadi produsen lada. harusnya nggak kalah sama maluku ya kalau tetap ditanam ladanya

    BalasHapus
  7. Wahhh sayang banget ya.. Padahal lada hitam juga harga jualnya tinggi banget. Aku baru tau kalo tanah kelahiran ibuku dulu jadi sumber lada

    BalasHapus
  8. Aku baru tahu banget kalo Kal-Sel ini yang jadi pemasok lada dulunya. Aku sampai sekarang suka banget lada, kadang kalo makan gitu, pasti aku tambahin lagi ladanya biar pedes dan wanginya enak.

    BalasHapus

Thank u ya untuk komentarnya. Jangan bosen mampir ke blog ini.

Follow Us @soratemplates