Langsung ke konten utama

Eksistensi Seni Tradisional Bernafaskan Religi di Banua Kita

Tak dapat dipungkiri bahwa Islam menjadi identitas pada masyarakat Kalimantan Selatan.  Dalam catatan sejarah, kita pun mampu mengetahui bagaimana awal mula Islam masuk ke Banua lalu menyebar hingga akhirnya menjadi agama yang ditetapkan oleh kesultanan untuk dianut oleh masyarakat Banjar. 

Walaupun masih belum bisa dipastikan sejak kapan Islam merambah ke tanah Banjar, namun sejarah mencatat bahwa kerajaan Banjar berdiri pada tahun 1520. Kemudian pada tahun 1526 kerajaan Banjar menjadikan Islam sebagai agama kerajaan.  Sayyid Abdurrahman atau yang lebih dikenal sebagai Khatib Dayan, seorang ulama besar dari Demak mengIslamkan Raja Banjar yaitu Raden Samudera saat itu. Setelah menjadi muslim, Raden Samudra pun berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. 

(*Sumber: flickr.com


Kehidupan Islami dalam Kesultanan Banjar turut mewarnai kesenian tradisional yang tercipta pada saat itu.  Inilah sebenarnya poin penting yang sebaiknya menjadi pemikiran bersama. Kesenian khas Banjar yang bernafaskan religi sudah semestinya dikaji & dilestarikan.  Hal ini untuk memperkuat bahwa nilai-nilai Islam yang terwujud tidak sebatas tradisi namun menjadi dasar dalam sendi-sendi kehidupan.

(*Sumber: yola-gorden


Mengapa kontradiksi antara seni & religi masih saja nampak di tengah-tengah masyarakat?  Hal ini karena masih ada karya-karya seni termasuk seni tradisional yang tidak berpedoman pada Alquran & Assunah.  Karya seni sendiri sebenarnya adalah madaniyah (bentuk-bentuk fisik yang dapat diindera) yang khas karena merupakan buah dari hadharah (peradaban) yang berkaitan dengan pandangan hidup. 

Kesenian yang bernafaskan religi (Islam) tentunya berpedoman pada Alquran & Assunah.  Bila telah berpedoman pada pedoman yang haq maka kontradiksi antara seni dan  religi sebenarnya dapat ditepis.

Sudah semestinya kita memahami bahwa seni memiliki berbagai cabang. Demikian halnya kesenian tradisional, khususnya dari Banjar. Seperti seni suara, tari, musik, rupa dwi matra (anyaman, lukisan, ukir, hiasan airguci), rupa tri matra (rumah adat, jukung/perahu, masjid), lisan berbasis sastra (pantun, madihin, balamut) bahkan bela diri (kuntaw).

Di sini  kita bisa tarik benang merah bahwa seni bernafaskan religi (Islam) menghasilkan karya-karya seni dari berbagai cabangnya namun tetap berpedoman pada Alquran & Assunah.  Tidak dicampuri dengan unsur-unsur mistis, erotisme maupun ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Islam.

Jejak dari karya-karya seni tradisional bernafaskan religi di Banua masih bisa kita dapati walaupun mulai agak langka. Tergerus akibat pergeseran nilai budaya modern serta masih adanya keinginan untuk melestarikan karya-karya seni yang sebenarnya justru tidak berpegang pada Islam.  Hal ini tentu sangat disayangkan. 

Tari-tarian yang tidak menonjolkan aurat wanita dan pria, erotisme dan nilai mistis sebenarnya ada dalam seni tari Banjar bernafaskan religi.  Contohnya : Sinoman Hadrah & Japin.  

- Sinoman Hadrah ditarikan oleh penari pria sebanyak 20-30 orang dengan 5-6 orang sebagai pendendang syair sekaligus penabuh rebana.  Para penari rudat bergerak tegap & gagah berkostum tari sembari mengibarkan bendera kecil berwarna. Adapula bendera kecil yang bentuknya segitiga bertuliskan Asmaul Husna. Selain mengibarkan bendera adapula penari yang memutar-mutar ‘payung ubur-ubur’. Mereka mengikuti ritme tabuhan rebana yang disertai lantunan syair.  Syairnya pun tidak sembarangan, yaitu berupa shalawat (pujian kepada Rasulullah), ataupun syair petuah & nasihat. Sinoman Hadrah juga disebut sebagai tari rudat berdiri.

(*Sumber: Tribunnews


- Rudat yaitu tarian yang ditarikan dengan posisi duduk dan menggerakkan tangan serta tubuh dengan gerakan dinamis oleh sejumlah penari diiringi tabuhan rebana (tarbang) & syair-syair shalawat ataupun nasehat. Pada bulan Mei 2017, Pemkab Banjar pernah mengadakan workshop Rudat selama sehari untuk para siswa-siswi SMP & SMA.  Hal ini tentunya patut diapresiasi.

- Japin, seni tari yang awalnya diperkirakan dari Yaman (id.wikipedia.org). Berasal dari kata ‘zaffan’ (bahasa Arab) yang artinya penari & al-zafin yaitu gerak kaki. Tarian  khas Melayu ini mengalami akulturasi dengan Islam dan menjadi bagian dari seni tari Banjar. Biasanya ditarikan oleh para pria. Namun dengan adanya kreasi dari para seniman kemudian ditarikan oleh wanita, selain itu juga tercipta berbagai kreasi Japin.

Kita pun bisa melihat bentuk dari hasil ukiran pada rumah adat & masjid begitu lekat dengan Islam.  Kekhasan ini terlihat dengan adanya ukiran syahadat, buah-buahan & bunga. Rudiyanto dalam artikelnya “Seni Ukir Banjar yang Kian Tergusur” (kanalkalimantan.com/30-11-2017) menuliskan bahwa penggunaan motif floral dipengaruhi kuatnya budaya Islam yang masuk di tanah Banjar. Ajaran Islam menampikkan pembuatan hiasan termasuk ukiran berbentuk mahkluk hidup.

(*Sumber: bubuhanbanjar.wordpress

Banjar pun memiliki berbagai instrumen musik khas seperti panting, kuriding dan seterusnya. Biasanya menjadi pengiring bagi tarian & syair-syair yang dinyanyikan, baik shalawat maupun nasihat. Namun yang khas dari akulturasi Islam & Banjar adalah rebana atau tarbang.

(*Sumber : wacana.co


Seni sastra lisan sebagaimana diuraikan dalam modul “Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Berbasis Muatan Lokal di Kalimantan Selatan pada sub pembahasan “Kesenian Tradisional Banjar pada zaman Islam” salah satunya yaitu Madihin berasal dari kata ‘madah’ (bahasa Arab) yang berarti berkata-kata. Madihin adalah karya seni budaya Islam, diiringi dengan kasidah Arabi yang dilisankan dengan bahasa Banjar.

(*Sumber: Kalimantan Post

Sebenarnya masih sedikit yang saya paparkan mengenai seni tradisional yang merupakan hasil akulturasi Islam & Banjar hingga menghasilkan karya seni yang bernafaskan religi. Dalam hal ini saya cenderung mengambil sikap bahwa karya seni tradisional mampu sebagai bukti otentik akan peradaban Islam yang pernah berpengaruh di Banua kita. Selain itu juga menjadi sarana dalam syiar Islam. Namun perlu digarisbawahi bahwa kesenian tradisional Islami dilestarikan bukan hanya sebatas tradisi. Kita harus memahami bahwa Islam pernah (dan semoga dapat kembali) menjadi dasar dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat di Banua, dimana seni Islam adalah buah dari penerapan Islam tersebut.

Wallahu’alam bish shawab.

(*Tulisan dimuat di SKH Kalimantan Post tanggal 23 Agustus 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#FBBKolaborasi - 5 Tokoh Kartun Favorit di Masa Kecilku

Wah,FBB Kolaborasi mengambil tema di bulan November ini ternyata bikin throwback nih karena nyeritain tentang tokoh kartun favorit di masa kecil.
Let's find keseruan dalamFBB Kolaborasikali ini karena kita-kita dari FBB akan ngebahas tentang nostalgia kartun favorit di masa kecil. Waw, so sweet.

Baidewei, gimana caranya kok jadi bisa punya tokoh kartun favorit? Apalagi masa kecil saat itu kan di tahun 80’an.  Stasiun tv aja cuma satu. 

Nice question!
Jadi waktu itu saya bisa kenal dengan para tokoh kartun ini karena memang di TV pun ditayangkan film kartun.  Selain itu, hiburan di rumah Alhamdulillah ada video player.  Jadi, kaset video kartunnya biasanya nyewa di rental kaset video.  Gitu.  Nggak itu aja, bahkan sampai ada komiknya juga kaset cerita.  Baidewei.. do u know kaset? Hihihi.. the people from ’70,’80 & ’90 udah taulah pasti bentuk kaset ya.

Let's Grow Happy!

Tentu kita bisa melihat rasa bahagia yang terpancar pada wajah anak-anak kita bila ia mendapatkan sesuatu ataupun berada pada momen yang menyenangkan hatinya.  Ia tentu merasa bahagia saat mampu menikmati makanan dan minuman favoritnya.  Apalagi bila diajak ke arena bermain, ke pantai atau ke kolam renang bahkan mendapat hadiah berupa mainan yang ia idamkan. Namun, ternyata justru sebenarnya kebersamaan orangtua dalam setiap aktivitas sang anak yang justru membuat anak-anak kita ini bahagia.
But, sejenak melihat kondisi anak-anak yang berada di daerah konflik (perang & bencana alam), marjinal dan terbelakang, hati ini serasa teriris. Entahlah, dari mana mereka mendapatkan kebahagiaan dan bagaimana mereka mampu untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.

Diberitakan oleh Mint Press News, sekitar 85.000 balita dalam 3 tahun ini (2015 – 2018) di Yaman yang masih saja bergejolak, tewas akibat kekurangan gizi. Kondisi anak-anak di daerah konflik tentunya selain kekurangan gizi, sanitasi ya…

Acer Day 2018 Attack Banjarmasin dengan Meluncurkan Swift 3 dan Berbagai Laptop Gaming Terbaru

Siapa sih yang tak kenal brand Acer? Acer begitu populer dengan produk laptopnya.  Saya sendiri hingga kini masih menggunakan laptop Acer untuk mengerjakan aktivitas saya sebagai penulis & blogger.
Ternyata secara resmi Acer pada tanggal 16 Juli 2018 barusan mengumumkan Acer Day 2018  ( berlangsung selama 16 Juli – 18 September 2018).  Momen spesial ini  digelar serentak di 12 negara di Asia Pasifik & di 8 kota besar di Indonesia.  Kota Banjarmasin adalah salah satunya.

I feel so special bisa menghadiri acara yang digelar oleh Acer di Intro Jazz Bistro Cafe, Hotel Tree Park, Banjarmasin, Senin, 16 Juli lalu bersama teman-teman dari komunitas bloggerSpecialnya adalah karena bisa secara langsung mendapatkan berbagai informasi tentang Acer Dayini! Selain itu bisa kepoin langsung tentang produk terbaru Acer yaitu Swift 3 & Aspire 3 berprosesor AMD Ryzen Series 3,5,7 juga Nitro 5 berprosesor Intel Core generasi ke 8.