Senin, 17 September 2018

# Kesenian Banjar # Kesenian Islami

Eksistensi Seni Tradisional Bernafaskan Religi di Banua Kita

Tak dapat dipungkiri bahwa Islam menjadi identitas pada masyarakat Kalimantan Selatan.  Dalam catatan sejarah, kita pun mampu mengetahui bagaimana awal mula Islam masuk ke Banua lalu menyebar hingga akhirnya menjadi agama yang ditetapkan oleh kesultanan untuk dianut oleh masyarakat Banjar. 

Walaupun masih belum bisa dipastikan sejak kapan Islam merambah ke tanah Banjar, namun sejarah mencatat bahwa kerajaan Banjar berdiri pada tahun 1520. Kemudian pada tahun 1526 kerajaan Banjar menjadikan Islam sebagai agama kerajaan.  Sayyid Abdurrahman atau yang lebih dikenal sebagai Khatib Dayan, seorang ulama besar dari Demak mengIslamkan Raja Banjar yaitu Raden Samudera saat itu. Setelah menjadi muslim, Raden Samudra pun berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. 

(*Sumber: flickr.com


Kehidupan Islami dalam Kesultanan Banjar turut mewarnai kesenian tradisional yang tercipta pada saat itu.  Inilah sebenarnya poin penting yang sebaiknya menjadi pemikiran bersama. Kesenian khas Banjar yang bernafaskan religi sudah semestinya dikaji & dilestarikan.  Hal ini untuk memperkuat bahwa nilai-nilai Islam yang terwujud tidak sebatas tradisi namun menjadi dasar dalam sendi-sendi kehidupan.

(*Sumber: yola-gorden


Mengapa kontradiksi antara seni & religi masih saja nampak di tengah-tengah masyarakat?  Hal ini karena masih ada karya-karya seni termasuk seni tradisional yang tidak berpedoman pada Alquran & Assunah.  Karya seni sendiri sebenarnya adalah madaniyah (bentuk-bentuk fisik yang dapat diindera) yang khas karena merupakan buah dari hadharah (peradaban) yang berkaitan dengan pandangan hidup. 

Kesenian yang bernafaskan religi (Islam) tentunya berpedoman pada Alquran & Assunah.  Bila telah berpedoman pada pedoman yang haq maka kontradiksi antara seni dan  religi sebenarnya dapat ditepis.

Sudah semestinya kita memahami bahwa seni memiliki berbagai cabang. Demikian halnya kesenian tradisional, khususnya dari Banjar. Seperti seni suara, tari, musik, rupa dwi matra (anyaman, lukisan, ukir, hiasan airguci), rupa tri matra (rumah adat, jukung/perahu, masjid), lisan berbasis sastra (pantun, madihin, balamut) bahkan bela diri (kuntaw).

Di sini  kita bisa tarik benang merah bahwa seni bernafaskan religi (Islam) menghasilkan karya-karya seni dari berbagai cabangnya namun tetap berpedoman pada Alquran & Assunah.  Tidak dicampuri dengan unsur-unsur mistis, erotisme maupun ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Islam.

Jejak dari karya-karya seni tradisional bernafaskan religi di Banua masih bisa kita dapati walaupun mulai agak langka. Tergerus akibat pergeseran nilai budaya modern serta masih adanya keinginan untuk melestarikan karya-karya seni yang sebenarnya justru tidak berpegang pada Islam.  Hal ini tentu sangat disayangkan. 

Tari-tarian yang tidak menonjolkan aurat wanita dan pria, erotisme dan nilai mistis sebenarnya ada dalam seni tari Banjar bernafaskan religi.  Contohnya : Sinoman Hadrah & Japin.  

- Sinoman Hadrah ditarikan oleh penari pria sebanyak 20-30 orang dengan 5-6 orang sebagai pendendang syair sekaligus penabuh rebana.  Para penari rudat bergerak tegap & gagah berkostum tari sembari mengibarkan bendera kecil berwarna. Adapula bendera kecil yang bentuknya segitiga bertuliskan Asmaul Husna. Selain mengibarkan bendera adapula penari yang memutar-mutar ‘payung ubur-ubur’. Mereka mengikuti ritme tabuhan rebana yang disertai lantunan syair.  Syairnya pun tidak sembarangan, yaitu berupa shalawat (pujian kepada Rasulullah), ataupun syair petuah & nasihat. Sinoman Hadrah juga disebut sebagai tari rudat berdiri.

(*Sumber: Tribunnews


- Rudat yaitu tarian yang ditarikan dengan posisi duduk dan menggerakkan tangan serta tubuh dengan gerakan dinamis oleh sejumlah penari diiringi tabuhan rebana (tarbang) & syair-syair shalawat ataupun nasehat. Pada bulan Mei 2017, Pemkab Banjar pernah mengadakan workshop Rudat selama sehari untuk para siswa-siswi SMP & SMA.  Hal ini tentunya patut diapresiasi.

- Japin, seni tari yang awalnya diperkirakan dari Yaman (id.wikipedia.org). Berasal dari kata ‘zaffan’ (bahasa Arab) yang artinya penari & al-zafin yaitu gerak kaki. Tarian  khas Melayu ini mengalami akulturasi dengan Islam dan menjadi bagian dari seni tari Banjar. Biasanya ditarikan oleh para pria. Namun dengan adanya kreasi dari para seniman kemudian ditarikan oleh wanita, selain itu juga tercipta berbagai kreasi Japin.

Kita pun bisa melihat bentuk dari hasil ukiran pada rumah adat & masjid begitu lekat dengan Islam.  Kekhasan ini terlihat dengan adanya ukiran syahadat, buah-buahan & bunga. Rudiyanto dalam artikelnya “Seni Ukir Banjar yang Kian Tergusur” (kanalkalimantan.com/30-11-2017) menuliskan bahwa penggunaan motif floral dipengaruhi kuatnya budaya Islam yang masuk di tanah Banjar. Ajaran Islam menampikkan pembuatan hiasan termasuk ukiran berbentuk mahkluk hidup.

(*Sumber: bubuhanbanjar.wordpress

Banjar pun memiliki berbagai instrumen musik khas seperti panting, kuriding dan seterusnya. Biasanya menjadi pengiring bagi tarian & syair-syair yang dinyanyikan, baik shalawat maupun nasihat. Namun yang khas dari akulturasi Islam & Banjar adalah rebana atau tarbang.

(*Sumber : wacana.co


Seni sastra lisan sebagaimana diuraikan dalam modul “Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Berbasis Muatan Lokal di Kalimantan Selatan pada sub pembahasan “Kesenian Tradisional Banjar pada zaman Islam” salah satunya yaitu Madihin berasal dari kata ‘madah’ (bahasa Arab) yang berarti berkata-kata. Madihin adalah karya seni budaya Islam, diiringi dengan kasidah Arabi yang dilisankan dengan bahasa Banjar.

(*Sumber: Kalimantan Post

Sebenarnya masih sedikit yang saya paparkan mengenai seni tradisional yang merupakan hasil akulturasi Islam & Banjar hingga menghasilkan karya seni yang bernafaskan religi. Dalam hal ini saya cenderung mengambil sikap bahwa karya seni tradisional mampu sebagai bukti otentik akan peradaban Islam yang pernah berpengaruh di Banua kita. Selain itu juga menjadi sarana dalam syiar Islam. Namun perlu digarisbawahi bahwa kesenian tradisional Islami dilestarikan bukan hanya sebatas tradisi. Kita harus memahami bahwa Islam pernah (dan semoga dapat kembali) menjadi dasar dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat di Banua, dimana seni Islam adalah buah dari penerapan Islam tersebut.

Wallahu’alam bish shawab.

(*Tulisan dimuat di SKH Kalimantan Post tanggal 23 Agustus 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank u ya untuk komentarnya. Jangan bosen mampir ke blog ini.

Follow Us @soratemplates