Rabu, 20 Juni 2018

# Hujan # Industri

ADA YANG HILANG DALAM ‘HUJAN’

(*backsound: Bunyi gerimis jatuh dari langit dengan irama yang serempak. Membasahi pepohonan, rerumputan,  jalanan  dan apapun  yang menantang tanpa teduh – Banjarbaru, 6 Syawal 1439 Hijriyah.

“Apa yang hendak kamu lupakan, Lail?”
“Aku ingin melupakan hujan.”

(petikan dialog antara Elijah seorang psikolog & Lail, saat Lail memutuskan ingin menghapus ingatannya tentang Esok / Soke Bahtera; lelaki yang telah menjadi malaikat bagi Lail usai gempa yang melanda kota  dan merenggut keluarga mereka)





Kembali saya membaca buah karya apik dari om Tere Liye.  Novel "Hujan" bagi saya memang agak berbeda dari novel-novel karya beliau yang pernah saya baca. Perbedaan yang dituangkan dalam novel ini ada yang saya senangi dan ada yang tidak. Wajar ya. Like & dislike memang rasa yang wajar muncul dari manusia bila ditanya pendapatnya tentang apa pun.


Contohnya aja kalau ditanya kamu lebih suka hujan-hujanan atau berteduh sembari makan bakso atau gorengan plus nyeruput teh hangat?  Pasti jawabannya beda-beda. Betul?  Saya? Hehehe.. absolutely milih berteduh sambil memamah biak yang hangat-hangat.  Looh.. kok jadi bahas makan yaaa??


Back to novel Hujan.  Novel yang beralur maju-mundur-maju (flash back), membuat pembaca merasa hadir dalam kebersamaan antara Lail, Esok & si kribo Maryam.  Juga membuat rasa penasaran pembaca bertambah. Ya, rasanya pengen terus membaca tanpa berhenti (tapi itu nggak mungkin hehehe..).  

Pengen tau pake banget gimana kisah akhir LDR-annya Lail & Esok.  Apalagi LDR-an di era futuristik (setting waktunya aja tahun 2040-2050’an bo!) om Tere nyeritainnya nggak pake alay & juga nggak vulgar.  

Lail nggak pernah mau video call duluan kecuali Esok yang menelponnya.  Alasan Lail supaya nggak ganggu Esok yang lagi sibuk belajar.  Esok sendiri punya jatah nelpon terbatas selama di Universitas & dalam kesibukannya ngerjain proyek 'Kapal Raksasa’.

Tentang Persahabatan -Cinta- Melupakan-Perpisahan & Hujan


Novel setebal 320 halaman dan dicetak di tahun 2016 ini kalo dibahas soal perbedaan dengan novel-novel karya om Tere yang pernah aku baca:

1. Bersetting waktu futuristik (2040-2050).
2. Setting tempat, bikin penasaran nih! Yang  jelas sebuah kota yang rentan gempa.
3. Konflik : tentang  Bumi & keberlangsungan hidup Bumi serta penduduknya.
4. Nggak ada ngebahas masalah religi.
Poin empat ini yang  membuat saya merasa bahwa ada yang hilang di dalam Hujan.  Kita jadi nggak tau, apakah penduduk Bumi saat itu beragama? Tidak terkisah sedikit pun apa agamanya Lail, Esok dan Maryam.  I feel bad sih jadinya...

5. Setidaknya ada pesan moral yang bisa diambil & nggak bertentangan dengan yang kita pahami sebagai muslim.
Kalo udah jodoh gak akan lari kemana

Menjadi pahlawan nggak harus koar-koar. Di era futuristik, Lail & Maryam nggak jor-joran menampilkan aksi heroik di medsos saat mereka berlari melintas badai demi menyelamatkan penduduk suatu desa dari bencana. Masyarakatlah yang justru memviralkannya. Well, menjadi terkenal itu bonus. Udah semestinya lelah karena lillah.  Betul?

Belajarlah nrimo. Apapun yang menyakitkan hati gak harus serta-merta dilupakan meskipun bikin trauma dalam hidup tapi jadikanlah hal itu sebagai pelajaran –easy to say sih hehehe  but hard to aplly.

Cintailah Bumi & alam semesta – mulailah dari yang ‘biasa-biasa’ aja dulu ya, seperti nggak buang sampah sembarangan apalagi kota-kota biasanya udah memiliki tempat sampah berdasarkan 5 tipe sampah (basah (organik), kering (non-organik), B3- bahan beracun & berbahaya, daur ulang & residu) ; use tumbler untuk tempat minum; bawa tote bag untuk belanja dll. Kalo memang udah capable, nah bolehlah lebih maju untuk nyiptain teknologi  ataupun benda-benda yang ramah lingkungan.

Bijaklah dalam bersikap menjelang era Industry Revolution 4.0. Di sini kita kudu bisa mengisi kehidupan dengan kemajuan teknologi & bukan justru akhirnya dikendalikan oleh teknologi. Walopun sebenernya jadi beneran pengen punya mesin memasak seperti di novel Hujan deh... Tinggal masukan resep & bahan ke dalam mesin trus  jadi deh rawonnya.  Hahaha.

Secanggih apapun teknologi, tapi kalo Allah udah berkata Kun Faya Kun, maka gak akan ada yang bisa menolak & menandingi kehendak-Nya. Era futuristik dalam novel ini contohnya, tetap kelimpungan saat gempa yang mengguncang ternyata sangat dahsyat.

Jangan mudah su'udzon (berburuk sangka). Bisa-bisa ke depannya malah bisa salah ambil keputusan. Akibat Lail 'cemburu' & berburuk sangka pada Esok yang menurutnya pasti pergi bersama Claudia (anak dari pak Walikota, orangtua angkat Esok) dalam 'Kapal Raksasa'  akhirnya Lail memutuskan pergi ke Pusat Terapi Saraf demi menghapus ingatannya tentang Esok. Tapi kembali ke poin "Jodoh gak bakal lari kemana" and   novel "Hujan"  tetep dapet happy endingnya hehehe.

Well, it’s time to prove, udah waktunya  kita nggak stuck dalam kelatahan berteknologi. Teknologi yang memang ibarat pisau bermata dua ini sudah semestinya kita hunuskan untuk memberikan solusi bagi rakyat dunia.  Tidak melulu sebagai pendulang profit yang berefek pada terbentuknya masyarakat  konsumtif  karena berhulu pada sistem  kapitalisme.

6 komentar:

  1. Membaca tulisan inipun dengan backsound bunyi hujan di Barabai sore ini. 😁

    Sampai hari ini belum pernah baca bukunya Om Tere Liye. Selama ini cuma baca tulisan-tulisan singkatnya yang lalu lalang di medsos. 😅

    Baca tulisan ini ulun jadi handak membaca jua. 😍

    BalasHapus
  2. Sudah baca juga novel ini. Sukaaa banget. Love hujan soalnyaa.

    BalasHapus
  3. Seringg liat ini sih di gramed mau beli tp takut g kebaca hehehe namun trnyata ckup seru jugaa yaa. . Kdg krya tere liye selalu naik daun di psaran hehe

    BalasHapus
  4. saya kalau novel tere liye biasanya ada aja yang kurang sreg. tapi ya tetap dibaca juga. heuheu

    BalasHapus
  5. wah, ini jauh banget tahunnya tp aku cukup suka neh sama judul2 novel yg ada ujan, pelangi gitu, jadi mau baca ah. hihi

    BalasHapus
  6. I know ittt! Ak udah ad feeling duluan ini tentang novel hujan si tere pas baca judulnya. Tyt benar pas dibuka linknya. Hihi. The best dah pesan moral pd novel ini.. Tentang penerimaan yang utama. Ini dalem banget berasanya.

    BalasHapus

Thank u ya untuk komentarnya. Jangan bosen mampir ke blog ini.

Follow Us @soratemplates