ADA YANG HILANG DALAM ‘HUJAN’

(*backsound: Bunyi gerimis jatuh dari langit dengan irama yang serempak. Membasahi pepohonan, rerumputan,  jalanan  dan apapun  yang menantang tanpa teduh – Banjarbaru, 6 Syawal 1439 Hijriyah.

“Apa yang hendak kamu lupakan, Lail?”
“Aku ingin melupakan hujan.”

(petikan dialog antara Elijah seorang psikolog & Lail, saat Lail memutuskan ingin menghapus ingatannya tentang Esok / Soke Bahtera; lelaki yang telah menjadi malaikat bagi Lail usai gempa yang melanda kota  dan merenggut keluarga mereka)





Kembali saya membaca buah karya apik dari om Tere Liye.  Novel "Hujan" bagi saya memang agak berbeda dari novel-novel karya beliau yang pernah saya baca. Perbedaan yang dituangkan dalam novel ini ada yang saya senangi dan ada yang tidak. Wajar ya. Like & dislike memang rasa yang wajar muncul dari manusia bila ditanya pendapatnya tentang apa pun.


Contohnya aja kalau ditanya kamu lebih suka hujan-hujanan atau berteduh sembari makan bakso atau gorengan plus nyeruput teh hangat?  Pasti jawabannya beda-beda. Betul?  Saya? Hehehe.. absolutely milih berteduh sambil memamah biak yang hangat-hangat.  Looh.. kok jadi bahas makan yaaa??


Back to novel Hujan.  Novel yang beralur maju-mundur-maju (flash back), membuat pembaca merasa hadir dalam kebersamaan antara Lail, Esok & si kribo Maryam.  Juga membuat rasa penasaran pembaca bertambah. Ya, rasanya pengen terus membaca tanpa berhenti (tapi itu nggak mungkin hehehe..).  

Pengen tau pake banget gimana kisah akhir LDR-annya Lail & Esok.  Apalagi LDR-an di era futuristik (setting waktunya aja tahun 2040-2050’an bo!) om Tere nyeritainnya nggak pake alay & juga nggak vulgar.  

Lail nggak pernah mau video call duluan kecuali Esok yang menelponnya.  Alasan Lail supaya nggak ganggu Esok yang lagi sibuk belajar.  Esok sendiri punya jatah nelpon terbatas selama di Universitas & dalam kesibukannya ngerjain proyek 'Kapal Raksasa’.

Tentang Persahabatan -Cinta- Melupakan-Perpisahan & Hujan


Novel setebal 320 halaman dan dicetak di tahun 2016 ini kalo dibahas soal perbedaan dengan novel-novel karya om Tere yang pernah aku baca:

1. Bersetting waktu futuristik (2040-2050).
2. Setting tempat, bikin penasaran nih! Yang  jelas sebuah kota yang rentan gempa.
3. Konflik : tentang  Bumi & keberlangsungan hidup Bumi serta penduduknya.
4. Nggak ada ngebahas masalah religi.
Poin empat ini yang  membuat saya merasa bahwa ada yang hilang di dalam Hujan.  Kita jadi nggak tau, apakah penduduk Bumi saat itu beragama? Tidak terkisah sedikit pun apa agamanya Lail, Esok dan Maryam.  I feel bad sih jadinya...

5. Setidaknya ada pesan moral yang bisa diambil & nggak bertentangan dengan yang kita pahami sebagai muslim.
Kalo udah jodoh gak akan lari kemana

Menjadi pahlawan nggak harus koar-koar. Di era futuristik, Lail & Maryam nggak jor-joran menampilkan aksi heroik di medsos saat mereka berlari melintas badai demi menyelamatkan penduduk suatu desa dari bencana. Masyarakatlah yang justru memviralkannya. Well, menjadi terkenal itu bonus. Udah semestinya lelah karena lillah.  Betul?

Belajarlah nrimo. Apapun yang menyakitkan hati gak harus serta-merta dilupakan meskipun bikin trauma dalam hidup tapi jadikanlah hal itu sebagai pelajaran –easy to say sih hehehe  but hard to aplly.

Cintailah Bumi & alam semesta – mulailah dari yang ‘biasa-biasa’ aja dulu ya, seperti nggak buang sampah sembarangan apalagi kota-kota biasanya udah memiliki tempat sampah berdasarkan 5 tipe sampah (basah (organik), kering (non-organik), B3- bahan beracun & berbahaya, daur ulang & residu) ; use tumbler untuk tempat minum; bawa tote bag untuk belanja dll. Kalo memang udah capable, nah bolehlah lebih maju untuk nyiptain teknologi  ataupun benda-benda yang ramah lingkungan.

Bijaklah dalam bersikap menjelang era Industry Revolution 4.0. Di sini kita kudu bisa mengisi kehidupan dengan kemajuan teknologi & bukan justru akhirnya dikendalikan oleh teknologi. Walopun sebenernya jadi beneran pengen punya mesin memasak seperti di novel Hujan deh... Tinggal masukan resep & bahan ke dalam mesin trus  jadi deh rawonnya.  Hahaha.

Secanggih apapun teknologi, tapi kalo Allah udah berkata Kun Faya Kun, maka gak akan ada yang bisa menolak & menandingi kehendak-Nya. Era futuristik dalam novel ini contohnya, tetap kelimpungan saat gempa yang mengguncang ternyata sangat dahsyat.

Jangan mudah su'udzon (berburuk sangka). Bisa-bisa ke depannya malah bisa salah ambil keputusan. Akibat Lail 'cemburu' & berburuk sangka pada Esok yang menurutnya pasti pergi bersama Claudia (anak dari pak Walikota, orangtua angkat Esok) dalam 'Kapal Raksasa'  akhirnya Lail memutuskan pergi ke Pusat Terapi Saraf demi menghapus ingatannya tentang Esok. Tapi kembali ke poin "Jodoh gak bakal lari kemana" and   novel "Hujan"  tetep dapet happy endingnya hehehe.

Well, it’s time to prove, udah waktunya  kita nggak stuck dalam kelatahan berteknologi. Teknologi yang memang ibarat pisau bermata dua ini sudah semestinya kita hunuskan untuk memberikan solusi bagi rakyat dunia.  Tidak melulu sebagai pendulang profit yang berefek pada terbentuknya masyarakat  konsumtif  karena berhulu pada sistem  kapitalisme.

Post a Comment

20 Comments

  1. Membaca tulisan inipun dengan backsound bunyi hujan di Barabai sore ini. 😁

    Sampai hari ini belum pernah baca bukunya Om Tere Liye. Selama ini cuma baca tulisan-tulisan singkatnya yang lalu lalang di medsos. 😅

    Baca tulisan ini ulun jadi handak membaca jua. 😍

    ReplyDelete
  2. Sudah baca juga novel ini. Sukaaa banget. Love hujan soalnyaa.

    ReplyDelete
  3. Seringg liat ini sih di gramed mau beli tp takut g kebaca hehehe namun trnyata ckup seru jugaa yaa. . Kdg krya tere liye selalu naik daun di psaran hehe

    ReplyDelete
  4. saya kalau novel tere liye biasanya ada aja yang kurang sreg. tapi ya tetap dibaca juga. heuheu

    ReplyDelete
  5. wah, ini jauh banget tahunnya tp aku cukup suka neh sama judul2 novel yg ada ujan, pelangi gitu, jadi mau baca ah. hihi

    ReplyDelete
  6. I know ittt! Ak udah ad feeling duluan ini tentang novel hujan si tere pas baca judulnya. Tyt benar pas dibuka linknya. Hihi. The best dah pesan moral pd novel ini.. Tentang penerimaan yang utama. Ini dalem banget berasanya.

    ReplyDelete
  7. Surabaya lagi hujaaann, dan mendukung bangeett kok ya pas aku baca review novel HUJAN by TereLiye.
    Doi tuh penulis favoritku, walopun orangnya rada2 misterius, tapi hasil karyanya selalu menakjubkan.

    Review ala kamu sungguh bikin aku segera pengin beli nih novel.
    makasiii yaa

    ReplyDelete
  8. Wow, hebat banget ini penulisnya soalnya pakai settingan waktu 2040-2050. Dia udah bisa ngebayangin gimana Bumi kita di tahun itu?

    ReplyDelete
  9. Hujan memang bisa dinikmati dengan banyak hal, ya. Buat saya, menikmati hujan enaknya memang sambil ngemil. Tetapi, membaca novel sambil gogoleran di kamar juga nikmat :)

    ReplyDelete
  10. menurut saya sih karena keberlangsungan bumi menyatu dengan peemahaman religi
    Hanya mereka yang benar-benar kaffah yang paham akan nilai ciptaan Allah yang harus dijaga keberlangsungannya

    ReplyDelete
  11. Duhhh baca reviewnya racun dehh bikin pengen baca full nya😍 tapi emang dari judulnya aja udah ngejual banget sih "ada yang hilamg saat hujan" cuss nyari ! 😄

    ReplyDelete
  12. Karya om tere liye memang terbukti bagus enak dibaca dan bisa diambil cerita hikmahnya. Novel Hujan sekilas bagus dan sarat cerita inspirasi

    ReplyDelete
  13. Baca sebuah novel yang bersetting futuristik itu tantangannya banyak ya Mbak. Daya imajinasi kita terpancing dan harus mampu berjalan beriringan dengan alur cerita. Menurut saya, novel HUJAN ini satu diantara beberapa karya tulis TERE yang topiknya out of the box. Tapi tetap dan selalu oke untuk dinikmati.

    ReplyDelete
  14. Wow setting waktunya kisaran 2040-2050? Seperti apa ya Tere Liye menggambarkan suasana di masa depan dalam novel Hujan ini? Aku nonton film Korea berjudul Space Sweepers yang bersetting waktu 2029 aja udah super keren dibawa ke luar angkasa, di mana manusia sudah bisa bikin pemukiman indah di Mars hoho

    Harus lebih canggih nih setting lokasi novel :D

    ReplyDelete
  15. Ternyata novel hujan tere liye ini tentang futuristik ya, pas banget aku suka genre kaya begini hehe.

    ReplyDelete
  16. Aku pernah sekilas tahu tentng nove; hujan ini mba, tapi aku lupa mba karena belum baca isinya. Tapi kalau baca reviewnya epertinya bnyak ya yang bisa kita ambil hikmahnya mba. Penasaran jadinya

    ReplyDelete
  17. baru tau kalo tere liye punya futuristik. tak ada bahasan agama... mgkn di masa depan ga ada agama haha!

    btw baca 300an halaman butuh waktu brp lama? ini kemampuan membacaku makin melambat gara2 mata makin bermasalah..

    ReplyDelete
  18. Jadi inget nasihat dari Cak Nun, kalau hidup mengejar ketenaran gak akan tenang hidupnya.
    Yang penting kita berbuat baik dan terus bermanfaat untuk orang lain.

    ReplyDelete
  19. Langsung penasaran deh gimana kisah cinta LDR-an era tahun 2040-an ke depan? Baca review ini merasa dipaksa untuk membaca novelnya langsung biar gak mati penasaran. Asli deh om Tere imaginasinya luar biasa

    ReplyDelete
  20. Kalau sekilas Tere Liye, emang selalu beda dari yang lain yah kak.. seperti melintas batas masa depan hehehe.kayak novel hujan ini yah..terbitan 2016 tapi setting nya tahun 2040-2050 ..wow banget yah udah jauh ke masa depan. Kalau aku hujan senang nya rebahan atau sambil minum kopi hehehhe. Eh yang hilang saat hujan..wah mesti nyari nih 😀

    ReplyDelete

Terima kasih untuk kunjungan & komentarnya ya. Jangan bosen mampir ke blog ini. Oya, jangan tuliskan link hidup pada komentar Anda.