Minggu, 11 Desember 2016

# Ketahanan Keluarga # Khilafah

Konstruksi Ketahanan Keluarga dalam Proteksi Khilafah

ilustrasi : pinterest.com

Mia Endriza Yunita

          Kita sudah terlalu lelah menerima kenyataan pahit yang menimpa para insan yang sejatinya adalah personil dari keluarga. Keluarga sendiri merupakan benteng terkecil dari lingkup masyarakat.  Fenomena pahit yang menimpa keluarga-keluarga di Indonesia setiap harinya terpampang dalam kehidupan nyata dan menjadi suguhan tayangan di layar kaca, gadget & media cetak yang membuat  masyarakat semakin terpana akan kenyataan yang ada.  Ada seorang ibu yang nekad memutilasi anaknya, juga seorang ayah yang mengajak anaknya untuk bunuh diri dengan meminum racun serangga akibat hubungan antara pasutri yang tidak lagi harmonis, hingga seorang anak yang dicabuli oleh tetangganya sendiri, perselingkuhan dari pasutri,angka perceraian yang kian meningkat dan seterusnya.  Na’udzubillah min dzalik!

            Proteksi negara kepada individu masyarakat yang mencakup keluarga nampak hanya berkutat pada solusi parsial.  Saat kasus kekerasan seksual anak merebak dan negara kemudian memutuskan hukum kebiri bagi pelaku justru ternyata tidak memiliki efek jera.  Masih selalu ada kasus serupa yang kemudian muncul kembali.  Ini tentu menjadi pertanyaan.  Mengapa?  Bahkan ketahanan keluarga pun akhirnya kini lambat laun kian melemah.  Jatuh pada titik nadir.  Bila kita jeli melihat artinya, selama ini yang digadang-gadang menjadi solusi paripurna ternyata hanya bisa berjalan sebagai solusi parsial dan tidak menjamin permasalahan yang menimpa keluarga-keluarga di Indonesia bahkan dunia sekalipun menjadi selesai.

          Masyarakat sendiri lebih cenderung berpikir bahwa solusi Islami yang ditawarkan baik oleh pemerintah maupun individu yang bergerak di lembaga yang menawarkan solusi-solusi tersebut seakan-akan sudah menjadi solusi final.  Keberadaan lembaga pendidikan, keuangan, kesehatan dan sebagainya yang berlabel Islami dianggap sudah menyelesaikan permasalahan yang berkecamuk dalam masyarakat, sementara sistem dari bernegara yang mengatur kehidupan masyarakat masih berlandaskan pada kapitalisme sekulerisme.  Tentu saja semua permasalahan baik pemicu maupun yang menjadi anak masalah hingga akhirnya mengancam ketahanan keluarga sebenarnya belum tuntas disolusikan karena Islam masih belum dijadikan sebagai sistem negara.


Proteksi Khilafah Islam Terhadap Ketahanan Keluarga

          “Sesungguhnya Imam itu adalah perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya.  Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah & berbuat adil maka ia akan mendapatkan pahala (yang sangat besar).  Namun jika memerintahkan selain itu maka ia akan mendapatkan dosa karenanya” (HR.Muslim).

          Punca permasalahan sebenarnya terletak pada landasan bernegara yakni sistem.  Jika umat mempercayakan Islam sebagai solusi maka sudah semestinya sistem negara secara totalitas diganti dengan sistem Islam.  Berlandaskan dengan sistem Islam maka persoalan hilir/cabang wajib menjadikan Islam dalam mengatur solusi permasalahan. Proteksi pun akan berjalan sempurna jika tiga pilar terwujud dalam kehidupan yakni :

a. Ketakwaan individu yang ditanamkan oleh keluarga, masyarakat & negara.
b. Saling koreksi antara individu masyarakat & masyarakat dengan pemerintah pada pelaksanaan hak & kewajiban dalam kehidupan sebagaimana Al-Qur’an & As-Sunnah mengatur.
c. Eksistensi negara yang menaungi kehidupan bernegara dengan berpedoman Al-Qur’an & As-Sunnah. & keluarga.

          Khilafah dalam memproteksi ketahanan keluarga tentunya dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yaitu menjalankan aturan Islam secara totalitas pada seluruh lini kehidupan. Kerusakan masyarakat yang merupakan dampak dari diterapkannya sistem Kapitalisme Sekuler akan dibenahi secara menyeluruh. 

     Khilafah akan memposisikan dan menegaskan kembali peran-peran para personil rumah tangga sebagaimana mestinya, dimana peran Ayah sebagai kepala keluarga & pemberi nafkah bagi keluarga maka khilafah insya Allah akan membuka lapangan kerja agar para Ayah dapat menunaikan kewajibannya.  Kemudian peran Ibu sebagai ibu & manajer rumah tangga, maka khilafah memberikan keleluasaan bagi para Ibu agar mampu optimal menunaikan status ummu wa rabbatul bayt yang tentunya peran ini pun bisa dibagi dengan peran wanita yang tidak melulu berkutat dalam tugas domestik tanpa harus melalaikan keluarga dan tidak melanggar hukum syara’.  Peran anak sebagai generasi penerus maka khilafah bersama keluarga & masyarakat secara maksimal mengupayakan suasana kondusif untuk tumbuh & kembang anak yang pastinya wajib bebas dari ide-ide yang merusak pemahaman anak terhadap Islam.  Khilafah akan memberlakukan sistem pendidikan Islam dan jelas kurikulum berdasarkan Islam yang diterapkan serta umat tidak akan dibiarkan stress akan biaya pendidikan & lingkungan sekolah.

          Khilafah pun jelas akan menghapus segala praktek yang berhulu pada sistem Kapitalisme Sekuler.  Tidak akan ada lagi praktek ribawi, leasing, MLM, atau apapun dalam transaksi ekonomi yang pada waktu sistem Kapitalisme bercokol, semua itu menjadi alat pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat & keluarga. Jangan berharap akan ada lapangan kerja bagi para wanita yang  akibatnya malah mengorbankan keluarga & meninggalkan para mahram mereka karena wajib kita pahami bahwa bekerja bagi wanita hukumnya adalah Mubah maka tidak semestinya pekerjaan malah mengorbankan kemuliaan diri & melalaikan kewajiban dalam mengurus rumah tangga.  Khilafah pun memproteksi umat dengan menghapus seluruh industri yang diharamkan Islam, baik itu industri pornografi, miras dan narkoba. Pelayanan kesehatan bagi umat pun diutamakan tanpa adanya perbedaan kelas ditambah dengan kebijakan akan hidup sehat agar rakyat tetap terjamin kesehatannya.

         Kita khawatir serangan liberalisme & kapitalisme memborbardir ketahanan keluarga kita, kita khawatir keluarga kita semakin jauh dari Islam, tidak mendapatkan sarana & prasarana yang layak dalam kehidupan, terjebak dalam nistanya pergaulan bebas dan seterusnya dan sudah semestinya kita yakin bahwa kembali kepada Islam adalah solusinya.  Maka  jelas kita sangat memerlukan peran negara dalam mewujudkan ketahanan keluarga.[] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank u ya untuk komentarnya. Jangan bosen mampir ke blog ini.

Follow Us @soratemplates