Kamis, 26 Oktober 2017

# dakwah # Opini

Voting Tak Wakili Suara Rakyat

(Ilustrasi : okezone.com)





Sidang paripurna DPR RI pada hari Selasa 24/10/2017 akhirnya ketok palu mensahkan Perppu Ormas menjadi undang-undang.  Disahkannya perppu ini menjadi undang-undang karena voting dimenangkan oleh kubu fraksi yang mendukung perppu tersebut., yakni PDIP, Golkar, Demokrat, PKB, PPP, Nasdem & Hanura. Sehari sebelumnya 23/10/2017, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan, "Kami dari pemerintah yang penting mufakat dulu, apapun ini menyangkut ideologi Pancasila, negara punya aturan, dan Pancasila itu komitmen bukan hanya pemerintah, tapi juga anggota DPR, seluruh fraksi-fraksi seluruh partai politik saya kira sudah komitmen dengan namanya Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika (m.detik.com, 24/10/2017).


Selama sidang paripurna berlangsung, di luar gedung DPR RI berkumpul ribuan massa yang menolak Perppu Ormas ini menjadi undang-undang.  "Oleh karenanya kami akan tetap melakukan perlawanan pada keputusan ini dan perlawanan yang paling utama yang akan kami lakukan adalah jalur hukum. Kita akan berjuang kembali di Mahkamah Konstitusi tidak mengenal lelah agar UU Ormas ini bisa dibatalkan," tegas Slamet Ma'arif  Ketua Presidium Alumni 212 kepada wartawan di halaman DPR (news.okezone.com ; 24/10/2017).

Sebagai rakyat biasa, maka saya pribadi berpendapat bahwa Perppu Ormas yang disahkan menjadi undang-undang ini berpotensi membungkam suara kritis rakyat untuk mengoreksi pemerintah.  Selain itu, pemerintah pun bisa membubarkan ormas tanpa melalui jalan pengadilan bila mereka menganggap ormas yang bersangkutan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia serta bertentangan dengan Pancasila.  Realitanya, justru apa yang dianggap bertentangan adalah penafsiran sepihak yang dilakukan oleh pemerintah dengan Hizbut Tahrir Indonesia sebagai ormas pertama sebagai 'korban' kebijakan perppu ini.  HTI sendiri dalam gerak dakwahnya justru mencoba menyelamatkan Indonesia dari cengkeraman Kapitalisme Sekulerisme yang kian menggurita. Anehnya, ormas-ormas yang justru membahayakan generasi dan separatis masih tetap ada.  Ini mengherankan!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank u ya untuk komentarnya. Jangan bosen mampir ke blog ini.

Follow Us @soratemplates