Minggu, 11 Desember 2016

# Opini

Mampukah Perempuan Banua Menjalani Tantangan Zaman?






Mia Yunita, SP

      Banua kita, Kalimantan Selatan giat menggerakkan roda pembangunan & perekonomian dengan segenap upaya dari pemerintah beserta rakyat. Tak terkecuali peran perempuan.

      Bila kita menengok sejarah Banua maka aktualisasi peran perempuan sebenarnya selalu ada di dalam  kehidupan.  Di sektor ekonomi, para pedagang Pasar Terapung sejak dahulu kala bahkan hingga kini masih para perempuan yang dominan berkecimpung di dalamnya.  Begitu pula halnya dalam aktivitas ‘behuma’ (bertani), ‘manoreh’ (menyadap getah karet) peran perempuan pun ada.  Aktivitas lainnya seperti menjadi guru, pedagang ‘pancerekenan’ dan barang-barang kebutuhan masyarakat di pasar tradisional, ‘mahimpuakan anak’ (mengasuh anak orang lain), buruh cuci & asisten rumah tangga, ‘diupah mamasak’akan’ (semacam jasa katering) dan sebagainya juga menjadi bagian dalam kehidupan perempuan Banua.  Di satu sisi, mereka saat itu mencari tambahan untuk penghidupan sehari-hari namun tetap mengupayakan untuk mengurusi & melayani rumah tangga yang dibina bersama suami.  Di era perjuangan dalam melawan penjajah, para perempuan Banua pun turut terjun di dalamnya. Ada yang berjibaku di medan peperangan seperti halnya Aluh Idut & Ratu Zaleha dan tentu ada juga yang menjadi juru masak serta juru rawat di sektor medis. Tak ketinggalan dalam hal keIslaman, sejarah mencatat Fatimah salah satu cucu perempuan Syekh Arsyad Al Banjari bahwa ia adalah guru perempuan yang mengajarkan agama Islam kepada para muslimah Banua di masanya.  Ia diriwayatkan menulis kitab Parukunan Basar (kitab fikih); walaupun di riwayat sejarah lain kitab Parukunan Basar lebih dikenal sebagai kitab Parukunan Jamaludin yang pada masa itu Haji Jamaluddin adalah mufti Kerajaan Banjar. 

          Memasuki era modern, maka semakin berkembang pula aktualitas dari peran perempuan Banua.  Intinya, perempuan Banua kini aktif di seluruh sektor kehidupan dan mereka pun mencurahkan tenaga, waktu, pemikiran bahkan meninggalkan orang-orang tersayang untuk sementara waktu selama mereka beraktivitas. Sungguh disayangkan mindset masyarakat pun akhirnya terformat : ‘untuk apa perempuan sekolah ke jenjang yang tinggi namun tidak bekerja?’, ‘daripada di rumah lebih baik cari kerja untuk tambahan penghasilan rumah tangga’, ‘anak perempuan sebaiknya jangan cepat menikah, biarkan ia mencapai posisi karier sesuai impiannya’, dan seterusnya.  Saya pribadi dengan merujuk kepada Al-Qur’an & As-Sunnah dan melihat fenomena dari mindset masyarakat yang merupakan efek modernitas akhirnya merasa khawatir akan bergesernya tatanan posisi peran laki-laki dan perempuan antara hak dan kewajiban mereka.

          Kalimantan Selatan dengan populasi penduduk hampir 3,7 juta jiwa dan sebanyak 96,67% adalah muslim.  Terkait dengan kekhawatiran saya akan bergesernya posisi antara peran laki-laki & perempuan yang seharusnya tidak terjadi walaupun terjadi perubahan zaman apalagi dengan Banua kita yang kental religiusitasnya.  Saya mengajak pembaca untuk kilas balik dalam sejarah masuknya Islam ke Banua, yang awalnya berpenduduk mayoritas non muslim (Hindu) tak lepas dari peran dakwah salah satu wali dari Wali Songo yaitu Sunan Giri. Kalimantan Selatan pun  kemudian menjadi wilayah yang religius, apalagi setelah Islam menjadi agama utama dengan Sultan Suriansyah sebagai sultan Banjar Muslim pertama di Banua.  Menjadi agama utama maka dalam artian kehidupan pada masa itu   bersendikan syariat Islam.  Hal ini terlihat dari adanya struktur kerajaan yang mencantumkan Sultan sebagai pemimpin pemerintahan serta Mufti & Qadhi dalam masalah hukum.  Selain itu pada masa pemerintahan Sultan Adam Alwasiqubillah juga telah disusun untuk pertama kalinya ketetapan hukum tertulis dalam penerapan hukum Islam di Kerajaan Banjar yang dikenal dengan Undang-Undang Sultan Adam.  Mengapa saya mengajak pembaca untuk menengok sejenak dalam sejarah? Agar kita semua ingat bahwa Banua kita pernah menjadikan Islam sebagai poros hidup, tidak semata-mata sebagai agama yang mengatur aspek rohani namun juga memberikan solusi atas kehidupan sehari-hari termasuk dalam aspek muamalah.

          Sudah semestinya kita juga memahami bahwa perempuan pun memiliki andil dalam kehidupan, karena peran perempuan juga menjadi pilar dalam mencetak generasi penerus.  Para perempuan tentu sudah semestinya memahami hak & kewajibannya sebagaimana Al-Qur’an & As- Sunnah yang secara jelas mengarahkan untuk menjadi anak yang salehah dan selalu birrul walidayn (berbakti kepada orang tua) serta ummu wa rabbatul bayt (ibu & pengatur rumah tangga) juga siap berkontribusi dalam kehidupan dengan keahlian & keterampilan yang ia miliki tanpa melalaikan kewajibannya sebagai anak, istri & ibu.

       Sangat disayangkan bila dalam menjalani tantangan zaman, di mana arus sekulerisme tak lagi terbendung dalam kehidupan kita dan Islam tak lagi menjadi rujukan utama dalam segala permasalahan kehidupan.  Sungguh ironis hal ini sampai terjadi di Banua kita.  Banua yang awalnya dibangun susah payah oleh para pendahulu kita dan mampu menjadikan Islam sebagai sendi-sendi kehidupan umat namun kenyataan pahit terpampang di hadapan kita akan rentannya ketahanan keluarga.

            Bisa kita lihat masih ada para perempuan yang rela merantau jauh dari keluarga demi menjadi tenaga kerja wanita di luar negeri.  Keluarga yang awalnya dibangun sedemikian rupa akhirnya kehilangan peran ibu & istri. Memang, materi pun berkecukupan namun masih harus berbuntut pada perselingkuhan dan perceraian.  Ketua Pengadilan Agama Kelas I A Banjarmasin, Muhammad Alwi memaparkan data angka perceraian yang begitu tinggi mencapai 1600 kasus hingga awal September 2016.  Beliau mengatakan sebagaimana dilansir situs prokal.co (9/9/2016) bahwa beliau tidak pernah menemui angka sebesar itu.  Selama beliau bertugas di Ambon & Kendari paling banyak menemui 600 kasus dalam satu tahun.  Penyebab perceraian di Banjarmasin adalah tidak adanya rasa tanggung jawab (nafkah) & perselingkuhan. 

          Masih dalam sektor ekonomi, negara kita  sedang gencar mendorong para pengusaha UMKM untuk terus berkarya dengan memberikan berbagai pelatihan & kucuran kredit lunak.  Aktifnya usaha produksi maka berbuah pertumbuhan ekonomi yang tinggi sehingga pemerintah & rakyat mengharapkan terjadinya perbaikan ekonomi rakyat & negara.  Namun, mereka lupa, selama perbaikan ekonomi masih dalam cengkeraman sistem ekonomi Kapitalis maka saat itu pula mereka tetap berkubang dalam riba (bunga). Mungkinkah usaha ekonomi mikro mampu mengubah tatanan ekonomi makro yang sudah menzalimi rakyat secara nyata?  Para perempuan Banua kita yang berkiprah dalam UMKM & koperasi perempuan simpan pinjam sebaiknya mengkaji kembali bagaimana berekonomi secara Islami.  Ingin memperbaiki perekonomian agar halal & berkah secara totalitas tentu juga harus mengubah sistem Kapitalisme yang mendominasi saat ini dengan sistem Islam. 

          Roda perekonomian dalam sistem Kapitalisme mengacu kepada permintaan ‘pasar’, terlepas dari halal & haram dalam Islam.  Contoh dari permintaan pasar yang saya maksud adalah keberadaan bisnis prostitusi.  Saat prostitusi Pembatuan Banjarbaru ditutup ternyata masih ada bisnis serupa yang beroperasi di daerah lain.  Bisnis yang dikenal dengan ‘warung jablai’ ini selain menyajikan makanan & minuman namun juga dilengkapi dengan pelayan-pelayan warung yang berpakaian menggoda bahkan warung tersebut menyediakan kamar-kamar khusus di belakan untuk ‘beristirahat’. Kasat Satpol PP Kabupaten Tabalong, H.Ismail menjelaskan maksud kamar belakang adalah lokasi dimana mereka menjajakan layanan seks (m.prokal.co, 20/5/2016).    Tidak itu saja sebenarnya, bisnis tempat hiburan malam & menjual narkoba pun menjadi lahan mencari nafkah bagi para perempuan Banua. Astaghfirullahal’adzim.

          Miris rasanya melihat nasib Banua kita yang pernah berlandaskan akidah Islam & bersendikan syariat Islam kini terperosok begitu jauh dalam jurang kebobrokan Kapitalisme.  Menuju Banua yang beriman tentu tak ada jalan lain kecuali dengan Banua Bersyariah dalam naungan Khilafah Islamiyah.  Mampukah kita mewujudkannya demi menyelamatkan umat termasuk perempuan & generasi penerus?  Insya Allah bisa! Mari berjuang bersama saling bahu membahu antar seluruh umat Islam dari seluruh elemen termasuk pemerintah dengan tujuan yang satu yakni ‘Melanjutkan kembali kehidupan Islam’.
(*Pemerhati Sosial Kemasyarakatan
Tinggal Di Banjarmasin


#BanuaBersyariah #OpiniIdeologis #NegaraSokoGuruKetahananKeluarga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank u ya untuk komentarnya. Jangan bosen mampir ke blog ini.

Follow Us @soratemplates